Saya berencana untuk menggunakan novel
karya Charlotte Perkins Gilman sebagai objek yang akan diteliti, namun kerangka
penelitian yang saya buat ini sebenarnya masih berupa coretan kasar dari
sekumpulan ide yang belum tersusun rapi karena sejujurnya saya masih gamang
dalam menentukan fokus pembahasan penelitian ini dan teori apa saja yang sekiranya
bisa berterima. Tetapi, saya cukup tertarik untuk membahas mengenai teknik
penyampaian desire melalui gagasan-gagasan sentimen dalam dua novel fantasi karya
Charlotte Perkins Gilman yang berjudul “Moving
the Mountain” dan “Herland”.
“Moving The Mountain” dimulai dengan ditemukannya seorang laki-laki
bernama John Robertson, seorang pemuda berusia 25 tahun yang sempat dinyatakan
hilang selama 30 tahun di dataran tinggi Tibet sejak tahun 1910 dan berhasil
ditemukan oleh adiknya, Nellie. Ketika ditemukan, John sempat mengalami amnesia
yang membuatnya merasa tidak bisa mengingat sudah berapa lama dia menghilang,
dia hanya ingat bahwa usianya saat itu adalah 25 tahun. Meskipun amnesia yang
dideritanya itu hanya bersifat sementara, tetapi John seolah tidah bisa
menerima bahwa dia telah kehilangan waktu selama 30 tahun dan dia tetap
bersikukuh bahwa usianya saat ini bukan 55 tahun melainkan 25 tahun. 30 tahun
yang hilang dari kehidupan John membuat dia merasa asing terhadap lingkungan
sekitarnya, Hal ini tampak ketika Nellie membawanya pulang, John tidak bisa
menerima kenyataan bahwa saat ini (1940 – waktu setelah dia ditemukan) kota
yang dulu dia kenal sudah mengalami perubahan yang bisa dibilang mengusik
dirinya.
Setting cerita dalam novel ini
tergolong merupakan sebuah utopia karena penggambaran sebuah kota di tahun 1940
yang digambarkan tampak sangat modern dan cenderung mendekati futuristic dengan
berbagai kemajuan di bidang pengelolaan bahan makanan, prinsip-prinsip ekonomi,
pengelolaan lingkungan, pendidikan, bahkan hukum dan tatanan sosial yang juga
sangat berbeda jika dibandungkan dengan kondisi nyata di tahun terebut (1940).
Kondisi yang cukup menarik perhatian dalam novel ini adalah bahwa disini,
posisi perempuan menjadi lebih tinggi dari laki-laki. Misalnya saja di bidang
ekonomi; perempuan memiliki pemikiran yang tergolong rumit namun jauh lebih
efektif daripada apa yang dipikirkan oleh John sebagai tokoh utama dalam novel
ini. Selain di bidang ekonomi, pekerjaan perempuan yang biasa dianggap sebagai
pekerjaan yang remeh seperti kewajiban perempuan untuk mengurus dan mengasuh
anak pun disini justru dirombak habis-habisan. Jika perempuan pada umumnya
diwajibkan untuk mampu mengurus dan mendidik anak, hal itu justru dirombak
habis-habisan dalam novel ini dengan adanya peraturan bahwa hanya perempuan
yang dianggap mampu dan bersertifikat sajalah yang diperbolehkan mengurus,
merawat dan mendidik anak sehingga seorang ibu tidak memiliki kewajiban
mendidik anaknya jika dia memang dinilai tidak atau belum mampu melakukan hal tersebut.
Intinya, orang-orang di kota itu tidak bekerja karena mereka merasa wajib
bekerja, tetapi mereka bekerja karena mereka mampu dan ingin melakukannya.
Satu lagi karya Gilman yang ingin
saya bahas berjudul “Herland” yang
menceritakan tentang tiga orang laki-laki (Van, Jeff dan Terry) yang melakukan
ekspedisi ke sebuah wilayah hutan pedalaman yang hanya dihuni oleh perempuan
dewasa dan anak-anak perempuan (wilayah ini selanjutnya disebut sebagai
“Herland”). Herland oleh penduduk sekitar di luar wilayah itu disebut-sebut
sebagai sebuah kawasan terlarang bagi laki-laki karena setelah masuk ke kawasan
tersebut, tidak ada seorang laki-lakipun yang berhasil keluar lagi. Hampir sama
seperti setting yang digunakan dalam “Moving the Mountain”, karakter perempuan
juga sangat dominan dalam novel ini. Cerita dimulai ketika Van, jeff dan Terry dengan sengaja melakukan
ekspedisi ke Herland dan bertemu dengan tiga orang perempuan. Lucunya, tiga
orang laki-laki itu justru merasa ketakutan ketika bertemu dengan tiga orang
penghuni herland karena sejak awal mereka sudah membayangkan sosok mengerikan
yang buas dan brutal penghuni herland.
Selanjutnya, di dalam novel ini
juga terdapat hal yang sama seperti yang terjadi dalam “moving the mountain”.
Ketiga peneliti ini awalnya juga memandang para penghuni Herland sebagai sosok
yang lemah, tidak bisa apa-apa, bahkan lebih parah lagi, para penghuni Herland
digambarkan sebagai perempuan yang lugu, mudah ditipu, dan dapat dengan mudah
tunduk kepada laki-laki meskipun pada akhirnya tetap saja karakter perempuan
disini juga seolah ‘dimenangkan’ melalui pemikiran-pemikiran mereka yang lebih
kritis daripada pola piker karakter laki-laki yang cenderung tidak bisa
menerima kenyataan bahwa perempuan di hadapannya bisa berpikir lebih kritis dan
jauh dari sosok wanita lemah yang selama ini mereka bayangkan.
Meskipun karakter yang ingin
ditonjolkan kekuatan/powernya di dalam dua novel ini adalah perempuan, Gilman
justru lebih sering menyajikan karakter laki-laki yang menganggap remeh dan
memandang perempuan sebagai sosok yang lebih lemah melalui berbagai opini negative
mereka tentang perempuan. Selain banyaknya
ungkapan atau penilaian yang terkesan negative dan merendahkan perempuan,
kenyataan yang disajikan dalam kedua novel ini juga sebenarnya sangat berlawanan
dengan ungkapan-ungkapan negative dari beberapa karakter yang terlibat di
dalamnya. Di satu sisi terlihat karakternya memandang rendah perempuan tetapi
di sisi lain, justru perempuan itu sendirilah yang diangkat derajatnya melalui berbagai
pembuktian bahwa perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dianggap
remeh seperti dalam ‘Moving The Mountain’
ketika John berkata kepada Owen
“Why should they be? Women belong at home. If they push into a man’s
world they ought to
take the consequences.” (p.48)
Lalu ketika John bertemu dengan uncle Jack dan Drusilla, entah
apa alasannya, Uncle Jack berkata pada John bahwa perempuan tidak bisa meneruskan
perkebunannya dan dia seolah lebih menyambut John sebagai laki-laki dengan
menyarankannya untuk menetap saja disitu dan pilih perempuan mana yang ingin
dia nikahi walaupun disitu juga ada Drusilla
“I’ve got no son, […] and a girl can’t run the farm. You stay here John,
and keep thing goin’, and I’ll will it
to you – what do you say? You ain’t married, I see. Just get you a nice girl –if
there’s any left, and settle down here.” (p. 112)
Tidak jarang perempuan juga dipandang
sebagai makhluk lemah yang tidak bisa apa-apa dan lebih pantas berada di rumah.
Tapi pandangan negative seperti itu selalu bisa dipatahkan dengan kenyataan
bahwa perempuan dalam “Moving the Mountain” bisa memiliki peranan penting atau
bahkan bisa memegang kendali untuk hal-hal yang selama ini dianggap sebagai
persoalan remeh seperti mengasuh anak, mengelola produksi bahan makanan dan
menjaga lingkungan agar tetap kondusif meskipun sebenarnya pekerjaan-pekerjaan
semacam itu lebih penting daripada pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki.
Hal serupa juga terjadi dalam
novel ‘Herland’ pada adegan ketika Van sedang berpikir tentang keinginan
Ellador untuk ikut ke tempatnya (keluar dari Herland). Cukup jelas bahwa meskipun
pada ‘Herland’ digambarkan sebagai tempat yang mengerikan akhirnya mampu
membuat tiga tokoh laki-laki dalam ceita ini (terutama Jeff dan Van) kagum dan
menyadari bahwa dunia mereka yang berada diluar Herland bisa dibilang
tertinggal jauh baik dari segi tingkat edukasi maupun dari kondisi lingkungannya.
Tapi Ellador justru menunjukkan sikap merendah dengan berkata
“I understand it’s not like ours. I can see how monotonous our quiet
life must seem to you, how much more stirring yours must be. It must be like
the biological change you told me about when the second sex was introduced-a
far greater movement, constant change, with new possibilities of growth.”
(p. 121)
Penggalan
bagian novel “Moving the Mountain” dan “Herland” tadi terlihat seperti sebuah
kebimbangan akan posisi perempuan yang dianggap kurang atau bahkan tidak
berpengaruh bagi dunia. Apakah benar keberadaan mereka tidak berpengaruh? Jika memang
tidak ada pengaruhnya, kenapa latar tempat dalam dua novel ini digambarkan
sebagai sebuah wilayah dengan perempuan sebagai pihak yang berperan penting?
Mengacu pada “Women and Economics”
yang juga merupakan karya Gilman, terdapat pernyataan sebagai berikut
“…The labor now performed by women could be performed by the men […];
but the labor now performed by the men could not be performed by the women
without generations of effort and adaptation.” (p. 8)
dan
"The female of genus homo is economically dependent on the male." (p. 22)
serta latar tempat dan peran perempuan yang digambarkan dengan sangat utopis dalam “moving the Mountain” dan “Herland” sepertinya telah mengarahkan dua karya ini pada sentimental literature
"The female of genus homo is economically dependent on the male." (p. 22)
serta latar tempat dan peran perempuan yang digambarkan dengan sangat utopis dalam “moving the Mountain” dan “Herland” sepertinya telah mengarahkan dua karya ini pada sentimental literature
“Sentimentality and sentimental literature alike give us false view of the
world, distort our thinking, and substitute “saccharine” portrait of the world
for what we all know to be the horrible realities.” (dalam “In Defense of Sentimentality”, p. 3)
Yang digunakan sebagai salah satu cara untuk menyindir atau
mengkritik dominasi laki-laki atas civilization dengan cara membalikkan stereotype
yang sudah melekat di masyarakat. Ini juga merupakan salah satu cara untuk
menyampaikan keinginan tokoh perempuan dalam 2 novel ini terhadap social
reorganization setidaknya agar perempuan bisa dipandang sebagai manusia dan
bisa berada di level yang setara dengan laki-laki.
Work cited:
Gilman, Charlotte P. 1979. Herland (7th edition). United States: Pantheon Books
Epub version Downloaded from: http://bookzz.org/book/1108447/b7387d
Converted from
epub to PDF by: http://www.convertfiles.com/convert/ebook/EPUB-to-PDF.html
Gilman, Charlotte P. 1911. Moving the Mountain.
Gilman, Charlotte P. 2004. Women and Economics: A Study of the Economic Relation Between Men and
Women as a Factor in Social Evolution. London: University Of California
Press.
Solomon, Robert C. 2004. In
Defense of Sentimentality. New York: Oxford University Press