Selasa, 24 Februari 2015

Test 1



Saya berencana untuk menggunakan novel karya Charlotte Perkins Gilman sebagai objek yang akan diteliti, namun kerangka penelitian yang saya buat ini sebenarnya masih berupa coretan kasar dari sekumpulan ide yang belum tersusun rapi karena sejujurnya saya masih gamang dalam menentukan fokus pembahasan penelitian ini dan teori apa saja yang sekiranya bisa berterima. Tetapi, saya cukup tertarik untuk membahas mengenai teknik penyampaian desire melalui gagasan-gagasan sentimen dalam dua novel fantasi karya Charlotte Perkins Gilman yang berjudul “Moving the Mountain” dan “Herland”.


“Moving The Mountain” dimulai dengan ditemukannya seorang laki-laki bernama John Robertson, seorang pemuda berusia 25 tahun yang sempat dinyatakan hilang selama 30 tahun di dataran tinggi Tibet sejak tahun 1910 dan berhasil ditemukan oleh adiknya, Nellie. Ketika ditemukan, John sempat mengalami amnesia yang membuatnya merasa tidak bisa mengingat sudah berapa lama dia menghilang, dia hanya ingat bahwa usianya saat itu adalah 25 tahun. Meskipun amnesia yang dideritanya itu hanya bersifat sementara, tetapi John seolah tidah bisa menerima bahwa dia telah kehilangan waktu selama 30 tahun dan dia tetap bersikukuh bahwa usianya saat ini bukan 55 tahun melainkan 25 tahun. 30 tahun yang hilang dari kehidupan John membuat dia merasa asing terhadap lingkungan sekitarnya, Hal ini tampak ketika Nellie membawanya pulang, John tidak bisa menerima kenyataan bahwa saat ini (1940 – waktu setelah dia ditemukan) kota yang dulu dia kenal sudah mengalami perubahan yang bisa dibilang mengusik dirinya.


Setting cerita dalam novel ini tergolong merupakan sebuah utopia karena penggambaran sebuah kota di tahun 1940 yang digambarkan tampak sangat modern dan cenderung mendekati futuristic dengan berbagai kemajuan di bidang pengelolaan bahan makanan, prinsip-prinsip ekonomi, pengelolaan lingkungan, pendidikan, bahkan hukum dan tatanan sosial yang juga sangat berbeda jika dibandungkan dengan kondisi nyata di tahun terebut (1940). Kondisi yang cukup menarik perhatian dalam novel ini adalah bahwa disini, posisi perempuan menjadi lebih tinggi dari laki-laki. Misalnya saja di bidang ekonomi; perempuan memiliki pemikiran yang tergolong rumit namun jauh lebih efektif daripada apa yang dipikirkan oleh John sebagai tokoh utama dalam novel ini. Selain di bidang ekonomi, pekerjaan perempuan yang biasa dianggap sebagai pekerjaan yang remeh seperti kewajiban perempuan untuk mengurus dan mengasuh anak pun disini justru dirombak habis-habisan. Jika perempuan pada umumnya diwajibkan untuk mampu mengurus dan mendidik anak, hal itu justru dirombak habis-habisan dalam novel ini dengan adanya peraturan bahwa hanya perempuan yang dianggap mampu dan bersertifikat sajalah yang diperbolehkan mengurus, merawat dan mendidik anak sehingga seorang ibu tidak memiliki kewajiban mendidik anaknya jika dia memang dinilai tidak atau belum mampu melakukan hal tersebut. Intinya, orang-orang di kota itu tidak bekerja karena mereka merasa wajib bekerja, tetapi mereka bekerja karena mereka mampu dan ingin melakukannya.


Satu lagi karya Gilman yang ingin saya bahas berjudul “Herland” yang menceritakan tentang tiga orang laki-laki (Van, Jeff dan Terry) yang melakukan ekspedisi ke sebuah wilayah hutan pedalaman yang hanya dihuni oleh perempuan dewasa dan anak-anak perempuan (wilayah ini selanjutnya disebut sebagai “Herland”). Herland oleh penduduk sekitar di luar wilayah itu disebut-sebut sebagai sebuah kawasan terlarang bagi laki-laki karena setelah masuk ke kawasan tersebut, tidak ada seorang laki-lakipun yang berhasil keluar lagi. Hampir sama seperti setting yang digunakan dalam “Moving the Mountain”, karakter perempuan juga sangat dominan dalam novel ini. Cerita dimulai ketika  Van, jeff dan Terry dengan sengaja melakukan ekspedisi ke Herland dan bertemu dengan tiga orang perempuan. Lucunya, tiga orang laki-laki itu justru merasa ketakutan ketika bertemu dengan tiga orang penghuni herland karena sejak awal mereka sudah membayangkan sosok mengerikan yang buas dan brutal penghuni herland.


Selanjutnya, di dalam novel ini juga terdapat hal yang sama seperti yang terjadi dalam “moving the mountain”. Ketiga peneliti ini awalnya juga memandang para penghuni Herland sebagai sosok yang lemah, tidak bisa apa-apa, bahkan lebih parah lagi, para penghuni Herland digambarkan sebagai perempuan yang lugu, mudah ditipu, dan dapat dengan mudah tunduk kepada laki-laki meskipun pada akhirnya tetap saja karakter perempuan disini juga seolah ‘dimenangkan’ melalui pemikiran-pemikiran mereka yang lebih kritis daripada pola piker karakter laki-laki yang cenderung tidak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan di hadapannya bisa berpikir lebih kritis dan jauh dari sosok wanita lemah yang selama ini mereka bayangkan.


Meskipun karakter yang ingin ditonjolkan kekuatan/powernya di dalam dua novel ini adalah perempuan, Gilman justru lebih sering menyajikan karakter laki-laki yang menganggap remeh dan memandang perempuan sebagai sosok yang lebih lemah melalui berbagai opini negative mereka tentang perempuan. Selain  banyaknya ungkapan atau penilaian yang terkesan negative dan merendahkan perempuan, kenyataan yang disajikan dalam kedua novel ini juga sebenarnya sangat berlawanan dengan ungkapan-ungkapan negative dari beberapa karakter yang terlibat di dalamnya. Di satu sisi terlihat karakternya memandang rendah perempuan tetapi di sisi lain, justru perempuan itu sendirilah yang diangkat derajatnya melalui berbagai pembuktian bahwa perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dianggap remeh seperti dalam ‘Moving The Mountain’ ketika John berkata kepada Owen

“Why should they be? Women belong at home. If they push into a man’s world they ought to 
 take the consequences.” (p.48)

Lalu ketika John bertemu dengan uncle Jack dan Drusilla, entah apa alasannya, Uncle Jack berkata pada John bahwa perempuan tidak bisa meneruskan perkebunannya dan dia seolah lebih menyambut John sebagai laki-laki dengan menyarankannya untuk menetap saja disitu dan pilih perempuan mana yang ingin dia nikahi walaupun disitu juga ada Drusilla

“I’ve got no son, […] and a girl can’t run the farm. You stay here John, and keep thing goin’, and I’ll will  it to you – what do you say? You ain’t married, I see. Just get you a nice girl –if there’s any left, and settle down here.” (p. 112)


Tidak jarang perempuan juga dipandang sebagai makhluk lemah yang tidak bisa apa-apa dan lebih pantas berada di rumah. Tapi pandangan negative seperti itu selalu bisa dipatahkan dengan kenyataan bahwa perempuan dalam “Moving the Mountain” bisa memiliki peranan penting atau bahkan bisa memegang kendali untuk hal-hal yang selama ini dianggap sebagai persoalan remeh seperti mengasuh anak, mengelola produksi bahan makanan dan menjaga lingkungan agar tetap kondusif meskipun sebenarnya pekerjaan-pekerjaan semacam itu lebih penting daripada pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki.


Hal serupa juga terjadi dalam novel ‘Herland’ pada adegan ketika Van sedang berpikir tentang keinginan Ellador untuk ikut ke tempatnya (keluar dari Herland). Cukup jelas bahwa meskipun pada ‘Herland’ digambarkan sebagai tempat yang mengerikan akhirnya mampu membuat tiga tokoh laki-laki dalam ceita ini (terutama Jeff dan Van) kagum dan menyadari bahwa dunia mereka yang berada diluar Herland bisa dibilang tertinggal jauh baik dari segi tingkat edukasi maupun dari kondisi lingkungannya. Tapi Ellador justru menunjukkan sikap merendah dengan berkata

“I understand it’s not like ours. I can see how monotonous our quiet life must seem to you, how much more stirring yours must be. It must be like the biological change you told me about when the second sex was introduced-a far greater movement, constant change, with new possibilities of growth.” (p. 121)
            
            
            Penggalan bagian novel “Moving the Mountain” dan “Herland” tadi terlihat seperti sebuah kebimbangan akan posisi perempuan yang dianggap kurang atau bahkan tidak berpengaruh bagi dunia. Apakah benar keberadaan mereka tidak berpengaruh? Jika memang tidak ada pengaruhnya, kenapa latar tempat dalam dua novel ini digambarkan sebagai sebuah wilayah dengan perempuan sebagai pihak yang berperan penting? 


Mengacu pada “Women and Economics” yang juga merupakan karya Gilman, terdapat pernyataan sebagai berikut

“…The labor now performed by women could be performed by the men […]; but the labor now performed by the men could not be performed by the women without generations of effort and adaptation.” (p. 8)
dan
            "The female of genus homo is economically dependent on the male." (p. 22)

serta latar tempat dan peran perempuan yang digambarkan dengan sangat utopis dalam “moving the Mountain” dan “Herland” sepertinya telah mengarahkan dua karya ini pada sentimental literature

“Sentimentality and sentimental literature alike give us false view of the world, distort our thinking, and substitute “saccharine” portrait of the world for what we all know to be the horrible realities.” (dalam “In Defense of Sentimentality”, p. 3)

Yang digunakan sebagai salah satu cara untuk menyindir atau mengkritik dominasi laki-laki atas civilization dengan cara membalikkan stereotype yang sudah melekat di masyarakat. Ini juga merupakan salah satu cara untuk menyampaikan keinginan tokoh perempuan dalam 2 novel ini terhadap social reorganization setidaknya agar perempuan bisa dipandang sebagai manusia dan bisa berada di level yang setara dengan laki-laki.




Work cited:

Gilman, Charlotte P. 1979. Herland (7th edition). United States: Pantheon Books
 Epub version Downloaded from: http://bookzz.org/book/1108447/b7387d

Gilman, Charlotte P. 1911. Moving the Mountain.

Gilman, Charlotte P. 2004. Women and Economics: A Study of the Economic Relation Between Men and Women as a Factor in Social Evolution. London: University Of California Press.

Solomon, Robert C. 2004. In Defense of Sentimentality. New York: Oxford University Press